Syok! Ya itu yang saya rasain sore tadi. Bapak dan mamah bercerita tentang eyang kakung (bapaknya si mamah) waktu era 80an. Yang saya tau tentang eyang saya adalah beliau merupakan pendeta yang cukup dikenal dikalangan kristiani khususnya yang berasal dari jawa tengah. Beliau juga turut cukup berperan dalam perkembangan Gereja Kristen Jawa se-Indonesia. Yang saya ingat juga adalah beliau yang menciptakan buku panduan katekisasi (masa belajar untuk bisa sidhi(pengakuan iman percaya)) untuk Gereja Kristen Jawa. Dalam dunia kependetaan saya hanya mengetahui hal tersebut. Tadi, ayah saya mengatakan kalau pada era 80an eyang kakung pernah mengirimkan surat kepada presiden Soeharto. Beliau mengirim surat yang berisikan protes terhadap perbuatan yang dilakukan oleh Soeharto yaitu menembaki para penjahat kelas teri dan pada saat itu juga terjadi penembakan yang misterius. Eyang kakung memprotes dengan mengatakan bahwa soeharto tidak menghargai hak asasi para penjahat tersebut, seharusnya mereka diadili di meja hukum dan baru diberi hukuman. Kalimat terakhir yang ditulis eyang dalam surat tersebut kurang lebih seperti ini “bunuh saya saja, jadikan saya orang yang terakhir untuk ditembak”
Beberapa hari kemudian di depan pintu rumah eyang ditaruh seorang mayat yang sudah dibungkus dalam karung. Pukul 4 pagi eyang melihat mayat tersebut lalu beliau memindahkan ke luar rumah. Hal ini tidak diketahui anak-anaknya ketika itu, termasuk mamah saya yang sudah menjadi mahasisiwi. Eyang saya dianggap pendeta gendeng, setiap berkhotbah di gereja selalu ada intel yang mengawasi. Di kampus pun, kebetulan eyang saya juga dosen, beliau diawasi intel yaitu mahasiswa-mahasiswa teologi. Ya, saya merinding ketika orang tua saya bercerita tentang hal tersebut. Saya tidak menyangka orang yang baru saya temui beberapa hari lalu di Salatiga merupakan orang yang sangat berani.

No comments:
Post a Comment