pulang dari kampus seperti biasa gue ngobrol2 sama bapak ibu. kali ini topiknya galau kerjaan. udah ngomongin ini itu tiba2 terlintas di dalam pikiran gue yaitu kalimat "kalau sudah meninggal kamu mau dikenang sebagai apa?"
ya kalimat itu pertama kali gue denger saat kelas 3 SMA dan dilontarkan oleh seorang pastur ketika gue retreat. kenapa kalimat itu bisa keluar? jawabannya karena pastur sedang mengajak gue dan teman2 kelas gue untuk meditasi kematian. kedengarannya sih ngeri ya, mati. yang gue inget pada saat meditasi itu, pastur menggiring gue dan temen2 dengan pertanyaan "bagaimana keadaan kalian saat mati?" "Seperti apa suasana pemakaman kalian?" "Siapa saja yang hadir pada saat pemakaman?"
Pada saat meditasi itu gue sama sekali tidak merasa takut, gue merasa sangat tersentuh ketika gue melakukan meditasi kematian. gue membayangkan kematian sedemikian rupa sehingga gue menitikan air mata.
Gara2 kalimat "kalau sudah meninggal kamu mau dikenang sebagai apa?" gue jadi teringat pada saat eyang putri gue meninggal Februari 2011. 3 hari beruturut-turut tamu dateng silih berganti. mulai dari saudara, tetangga, temen sejawat eyang kakung, mahasiswa eyang kakung, pedagang di pasar, tukang becak sampai bahkan walikota dan ketua DPRD Salatiga. tenda paling maksimal 4 buah kalo pemakaman, ini ada 22 buah. GILA. Gue bener2 ngerasa amazed. ini yang meninggal siapa sih? eyang putri gue ya hanyalah ibu rumah tangga. dibalik keluguannya sebagai wanita jawa yang hanya berpendidikan sampai SMP, beliau wanita yang sangat luar biasa. luar biasa. Menurut opini orang-orang yang datang melayat, eyang putri itu sangat ramah, penolong, istri dan ibu yang sangat tangguh dan beliau orang yang sangat PD. Kenapa bisa dikatakan demikian? Eyang kakung gue pernah mengenyam pendidikan sampai S3 di Belanda sedangkan eyang putri gue hanyalah lulusan SMP. Tapi, eyang putri tidak pernah sama sekali merasa minder ketika berbincang dengan temen2 eyang kakung yang notabene orang yang pendidikannya jauh lebih tinggi daripada eyang putri. beliau bisa menempatkan diri sebagai mana mestinya tentunya dengan keluguannya. Ya keluguannya membuat dirinya itu orisinil. Ketangguhannya membuat dirinya dikagumi banyak orang. Keramahan dan jiwa penolongnya membuat dirinya dicintai banyak orang.
Setiap gue mengingat bagaimana proses pemakaman eyang putri gue yang dihadiri seribu orang lebih hal itu membuat gue berpikir seperti apakah gue akan dikenang oleh orang lain? bagaimana dengan kalian? :)
